BAB I
PENDAHULUAN
Reproduksi
adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi.
Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua
bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses
reproduksi oleh pendahulunya. Reproduksi seksual membutuhkan keterlibatan dua
individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda. Reproduksi ternak normal
adalah contoh umum reproduksi seksual.
Hampir semua
tingkah laku adalah adaptif. Timngkah laku memungkinkan hewan untuk memenuhi
tuntutan tingkat tingkat organisasi biologis di bawah organisme tersebut
(system organ, organ-organ, jaringan dan sel) dan untuk menyesuaikan tingkat
tingkat biologis di atas organism tersebut ( kelompo social, spesies, komunitas,
dan ekosistem), dan juga menyesuaikan pada lingkungan ambiennya (suhu,
kelembaban, pengaturan ruang, pakan, air dan lainnya).
Hewan
bertingkah laku dalam usahanya untuk beradaptasi dengan lingkungan, di mana
faktor genetik dan lingkungan terlibat di dalamnya. Lingkungan sekitar
mendorong hewan bertingkah laku untuk menyesuaikan diri dan bahkan terjadi pula
penyesuaian hereditas. Implikasinya, jenis atau spesies hewan mempengaruhi
reaksi dalam beradaptasi dengan lingkungannya (Curtis, 1983).
Secara alami
seekor ayam betina akan mengalami masa bertelur ketika sudah memasuki masa
matangnya organ reproduksi ayam, walaupun tanpa membutuhkan seekor pejantan.
Hanya saja telur yang dihasilkan tidak akan dapat ditetaskan karena tidak
adanya pembuahan sel telur oleh sperma di dalam organ reproduksi ayam betina,
telur tanpa pembuahan tersebut dinamakan infertile. Agar menghasilkan sebutir
telur yang dapat ditetaskan, tentu diperlukan sebuah perkawinan oleh seekor
ayam jantan sebagai penghasil sperma, yang selanjutnya sperma tersebut akan
dibuahi oleh indukan betina untuk menghasilkan telur. Kemudian telur tersebut
dierami sampai menetas selama 21 hari untuk memperoleh DOC.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tingkah Laku Reproduksi Ayam
Tingkah laku seksual termasuk
tingkah laku sosial, sebab: Menyangkut lebih dari satu ekor. Ayam adalah hewan
poligami sehingga denagn satu pejantan dapat mengawini 6-10 ayam betina.
Tingkah laku reproduksi pada ayam sangat di pengaruhi cara perkawinan berikut
ini akan dibahas cara mengawinkan ayam antara lain:
1.
Kawin Alami
Perkawinan
secara alami adalah perkawinan ayam pejantan dengan induk betina dimana
keduanya telah matang organ reproduksinya. Perkawinan dilakukan dengan cara
ayam akan menaiki tubuh induk betina dan memasukkan spermanya ke dalam vagina
induk betina. Perkawinan ini dilakukan tanpa ada campur tangan manusia, karena
biasanya saat induk betina sudah mulai siap kawin akan menunjukkan tingkah laku
yang dapat mengundang ayam jantan untuk segera mengawininya.
2.
Kawin Semi
Alami Kawin
semi alami atau kawin dodok (diambil dari istilah duduk), yaitu perkawinan ayam
yang dilakukan sama seperti cara konvensional, tetapi dibantu tangan manusia.
Caranya dengan memegangi induk betina yang siap kawin dengan posisi didudukkan
ke lantai agar tidak meronta-ronta, sehingga ayam pejantan dapat mengawininya
secara alami. perkawinan ini hanya dapat dilakukan pada ayam yang sudah jinak
dan terbiasa.
3.
Kawin suntik
Kawin suntik
atau kawin IB yaitu perkawinan denagn penganbilan semen dan di suntikan ke
beberapa betina. Untuk memperoleh DOC yang berkualitas dalam jumlah banyak,
seragam dan dalam waktu yang singkat. Keberhasilan cara ini juga menjadi
trobosan baru, namun kurang efisien sehingga sering di lakukan pada ternak
hobi.
Ternak ayam secara
alami pada saat perkawinan melakukan tingkah laku yang unik, berikut tingkah
laku dan gerakan ternak ayam jantan dan betina saat libido dan birahi
(melakukan tingkah laku reproduksi):
1. Jantan
a. Tarian
WALTZ
Pejantan akan melakukan tarian seperti:
merendahkan sayap, mendekati betina dan melangkah ke samping betina hingga
dekat sekali. Ada 3 macam tarian WALTZ diperlihatkan kepada betina yaitu
sebagai pinangan, yang sudah siap kawin dan setelah selesai kawin.
b. Aktivitas
pengganti
Mengalihkan dorongan seksual.
Dilakukan bila pinangan tidak ada tanggapan, jantan mematuk-matuk
batu/mengais-ais sambil memanggil betina. Jika tetap tidak ada tanggapan,
betina akan dikejar.
c.
Penegakkan bulu Leher
Pejantan meninggikan bulu, bulu
ditegakkan, bulu seluruh badan bergetar dilakukan sebelum & sesudah kawin.
d. Gerakan
Ekor
Ekor si
jantan digerakkan dengan cepat dalam arah horizontal.
e. Gerakan Kepala
Kepala dimiringkan, kemudian
digerakkan membuat satu lingkaran.
f.
Penyisiran Bulu
Menggosok-gosokkan kepala pada sayapnya.
g. Hentakan
Kaki
Jantan berlari dengan kaki
dibengkokkan, sayapnya direndahkan, sehingga menyentuh tanah, leher
dipendekkan, biasanya dilakukan sebelum jantan mengejar betina.
h. Gerakan Abnormal
Pejantan mengitari betina sambil
mengawasinya dengan seksama lalu pejantan mendekati betina dari belakang lalu
mematuk kepala/leher betina sambil mengepakkan sayapnya dengan cepat.
2. Betina
a.
Menolak dikawini
Betina yang
menolak dikawini akan cenderung menghindar dan lari.
b.
Menerima dikawini
Ayam betina
akan merapatkan dada dan ekor ke tanah, sayap dikem- bangkan untuk menjaga
keseimbangan.
c.
Bersarang
Ketika akan
bertelur ayam merasa gelisah, proses bertelur mempengaruhi jiwa ayam, cenderung
tenang bila ada sarang yang ada telurnya.
d.
Mengeram
Perilaku
mengeram merupakan perilaku alami ayam betina untuk menetaskan telurnya, namun
perilaku ini dapat dihilangkan melalui seleksi. Untuk mencegah ayam betina
mengeram dapat dilakukan: kandang jangan terlalu gelap, suhu jangan terlalu
tinggi, litter jangan terlalu tebal dan dikeluarkan dari kelompok. Selanjutnya
menghentikan ayam betina mengeram dengan cara: dilepas, dibiarkan jalan-jalan,
kandang harus sejuk dan dimandikan (suhu tubuhnya diturunkan).
e.
Mengasuh Anak
Induk ayam memiliki
mathering ability yang besar umumnya akan lebih agresif. Induk akan merawat dan
melindungi anaknya. Penyapihan terjadi pada umur anak 12 – 16 minggu, induk
berahi lagi
f.
Komunikasi
Penglihatan
untuk pengenalan dan ingatan seperti: bentuk dan warna kepala (jengger dan
pial) dan warna bulu sayap/tubuh.
g.
Pendengaran Suara (kokok)
sebagai alat
komunikasi antara induk dengan anak, atau betina memberi tanda pejantan.
B. Tingkah Laku Reproduksi Itik
Perilaku
kawin alam pada ternak itik dan entog pada kondisi liar, ternak itik atau entog
biasanya kawin di atas air (sambil berenang), yaitu di sungai atau danau. Namun
pada kondisi pemeliharaan intensif ternak itik atau entog dapat kawin dengan
hasil fertilitas yang baik walaupun tanpa ada fasilitas kolam. Pada dasarnya
ada lima tahapan tingkah laku sewaktu kawin yaitu tahap perayuan, tahap naik ke
atas punggung, perangsangan betina, ereksi dan ejakulasi. Tahapan-tahapan
tersebut banyak diuraikan oleh Lorenz (1951),sebagai berikut:
1.
Tahap perayuan
Tahap ini ditandai
dengan pejantan yang menaik turunkan kepala sambil bersuara yang khas dan
mematuk matuk betina. Betina yang sedang birahi maka akan diam dan mau di
dekati pejantan. Kadang juga betina masih menolak dan lari.
2.
Tahap naik ke atas punggung betina.
Pejantan
akan segera apabila itik betina mau dinaiki dan itik betina akan merapatkan
dada dan ekor ke tanah, sayap dikem-bangkan untuk menjaga keseimbangan.
3.
Tahap perangsangan Tahap
perangsangan yaitu dengan memijit-mijitkan/menekan kakinya pada punggung betina
sambil mengigit kepala dan menggerak-gerakan ekornya secara berirama untuk
mengarahkan kloakanya pada kloaka betina. Betina akan menaikan ekornya agar
tidak menutupi kloaka pejantan.
4.
Tahap ereksi Tahap ini ditandai
dengan menonjolnya kloaka pejantan (tonjolan berwarna merah).
5.
Tahap ejakulasi Tahap ini merupakan
tahap pengeluaran sperma pejantan.
C.
Tingkah Laku Reproduksi Burung Puyuh
Puyuh merupakan jenis aves yang tidak dapat terbang,ukuran tubuhnya
relative kecil, berkaki pendek dan tersebar diseluruh dunia, sedangkan cara
hidup yang liar menimbulkan kesan bahwa puyuh sulit dipelihara. Puyuh di
Indonesia baru mulai dikenal dan dipelihara pada akhir tahun 1979. Masyarakat
yang menghendaki produksi telur lebih banyak memilih puyuh jepang untuk dipelihara
dan diambil telurnya.
Puyuh merupakan salah satu spesies unggas yang sangat responsive dalam
menerima energi cahaya. Tingkah laku, masak kelamin, dan bioritme burung puyuh
dapat dimanipulasi dengan pemberian warna cahaya yang spesifik terutama untuk panjang
gelombang cahaya merah, jingga, kuning, hijau dan biru. Pemberian cahaya selama
14-16 jam setiap hari pada burung puyuh sangat dibutuhkan untuk memelihara
fertilitas dan produksi telur, sedangkan untuk produksi daging diperlukan
pencahayaan selama 8 jam setiap hari.
Tingkah laku seksual merupakan tingkah laku interaksi antara jantan dengan
betina yang sedang estrus. Tingkah laku ini ditunjukkan saat seekor jantan
dewasa kelamin siap melakukan kopulasi ke dalam alat kelamin betina dan betina
yang sudah dewasa kelamin serta sedang mengalami estrus akan tetap diam jika
sedang terjadi proses kopulasi (standing heat). Apabila ternak betina tidak
estrus, maka ketika jantan akan melakukan proses kopulasi, secara otomatis
betina akan lari menghindar. Tingkah laku seksual ini sangat penting untuk
memelihara kelangsungan kelompok. Prilaku seksual merupakan salah satu prilaku
belajar (Septiana, 1996).
Tingkah laku reproduksi pada puyuh hampir sama dengan unggas- unggas yang
lain. Berikut uraian tingkah laku tersebut:
1.
Tingkah laku reproduksi puyuh jantan
Puyuh jantan akan memperlihatkan penampilan
yang menarik kepada betina sebagai pinangan. Jika puyuh betina menerima
pejantan tersebut maka pejantan akan menaiki betina terjadi proses perkawinan.
Apabila puyuh betina menolak maka akan lari dan pejantan akan mengejar.
2.
Tingkah laku reproduksi puyuh betina
Betina yang menerima pejantan maka tidak lari dan merebahkan dada, perut, paruh
dan ekornya untuk dinaiki pejantan, kemudian terjadi proses perkawinan. Apabila
menolak betina akan menghindar dan lari.
D. Tingkah Laku
Reproduksi Kalkun
Kalkun
berasal dari Amerika Utara dan sekarang sudah menyebar ke berbagai belahan
dunia, salah satunya adalah Indonesia. Di Amerika, kalkun biasa dikonsumsi pada
saat hari thanks giving setiap tanggal 23 november dan perayaan natal. Kalkun
merupakan salah satu unggas berukuran besar mencapai 12 kg per ekor. Kalkun
diketahui mempunyai kemampuan unik dalam melakukan reproduksi aseksual.
Walaupun tidak ada kalkun pejantan, kalkun betina bisa menghasilkan telur yang
fertil. Anak kalkun yang dihasilkan sering sakit-sakitan dan hampir selalu
jantan. Perilaku ini bisa mengganggu proses inkubasi telur di peternakan
kalkun. Keunikan lainnya, jantan akan mengembangkan sayap dan ekornya untuk menarik
perhatian betina dan selalu menyerang orang yang memakai baju 'ngejreng".
Kalkun biasa menyerang tukang pos dengan tajinya di amerika, hal tersebut
terkait dengan musim kawin kalkun
Kalkun mempunyai ciri-ciri khusus
saat akan kawin hampir sama dengan ayam antara lain :
1. Tingkah laku reproduksi kalkun
jantan
a.
Kalkun Jantan Melakukan Tarian
Kalkun
jantan merendahkan sayapnya sambil mendekati betina,melangkah kesamping sampai
mencapai jarak 1 langakah. Tarian dperlihatkan ke betina dengan maksud sebagai
pinangan dan yang sudah siap (membungkuk).
b.
Aktivits pengganti
Bila jantan
telah melakukan pinangan, tapi betina menolak (tidak membungkuk) si jantan akan
mematuk batu/apa saja serta mengais-ais sambil memanggil betina.
c.
Kepakan sayap Mengepakan sayap dan
sambil berkokok untuk menunjukan kejantanan jika betina tidak membungkuk.
d.
Penegakan bulu
e.
Gerakan ekor dengan cara menggerakan
dengan cepat dalam arah horizontal
f.
Gerakan kepala dilakukan dengan
memiringkan kemudian digerakkan membentuk 1 lingkaran.
g.
Hentakan kaki
h.
Penyisiran bulu
i.
Gerakan abnormal pada jantan
1.
Gerakan atau tingkah laku pejantan
kladang juga tidak wajar sepaerti pejantan mengitari betina sambil mengawasi
dengan seksama dan mendekari betina dari belakang kemudian mematuk kepala sambil
mengepakan sayap nya dengan cepat.
2. Tingkah
laku reproduksi kalkun betina
a. Reaksi negatif terhadap pinangan jantan :
-Menghindar
dari jantan
-Melarikan
diri
b. Menerima pinangan
Kalkun
betina akan membungkukan badan, dada dan ekor nya merapat ketanah, sayap
dikembangkan meninggi untuk menjaga kseimbangan bila jantan menaiki nya bila
menolak pinangan dari pejantan.
E. Tingkah Laku
Reproduksi Merpati
Perkawinan merpati sudah bisa berlangsung
sejak merpati sudah menginjak usia 5 sampai 8 bulan. Sedangkan masa puncak dari
produksi telur terjadi pada usia 12 hingga 18 bulan. Hal tersebut terus
berlangsung hingga merpati menginjak usia 2-3 tahun. Usia merpati yang optimal
dalam memproduksi telur adalah pada usia 5 hingga 6 tahun.
Tingkah laku
burung merpati yang sedang dalam masa perkawinan berbeda dengan jenis burung
yang lainnya dimana memiliki semangat kawin yang sangat tinggi dan sang induk
jantan juga ikut berperan dalam membuat sarang, mengerami telurnya serta
membesarkan anak-anaknya yang baru saja menetas. Merpati merupakan hewan yang
setia dan sepanjang hidupnya berpasangan secara tetap, namun jika ada salah
satu yang mati atau dipisahkan maka akan dicarilah pasangan lain dalam beberapa
hari. Namun jika pasangan yang sudah dipisahkan tersebut dikembalikan, maka
pasangan lama akan terwujud kembali. Berikut tingkah laku reproduksi merpati:
1. Tingkah laku
reproduksi merpati jantan
Untuk
pejantan memulai dengan suatu kegiatan persiapan untuk kawin yaitu dengan cara
menggembungkan temboloknya, setelah itu bulu-bulunya dimekarkan, sayap
direbahkan lalu pejantan memperlihatkan penampilan yang tenang. Merpati jantan
akan mendekat. Jika merpati betina menerima pejantan tersebut maka kedua akan
menyatukan paruhnya seperti berciuman. Merpati tersebut mulai bersatu untuk
meneruskannya. Kemudian terjadi proses perkawinan yang hanya berlangsung
beberapa detik saja, setelah selesai kawin masing-masing burung merpati itu
seperti membersihkan dirinya dengan cara mengigit-gigit badannya seperti mencari
kutu. Segera setelah kawin, merpati jantan akan mencari bahan-bahan untuk
membuat sarang di dalam petak kandangnya.
2. Tingkah laku
reproduksi merpati betina
Betina yang
menerima pejantan maka tidak lari dan menyatukan paruhnya seperti berciuman,
kemudian terjadi proses perkawinan yang hanya berlangsung beberapa detik saja.
Apabila ovum dibuahi maka betina dan pejantan akan membuat sarang. Setelah
sarangnya mendekati akhir penyelesaian atau sudah selesai maka induk betina
akan mengeluarkan telurnya yang pertama. Dalam 24 jam berikutnya biasanya telur
yang kedua akan dikeluarkan. Tiap kali masa bertelur, biasanya induk betina
bisa menghasilkan 2 butir telur. Pengeraman akan segera dimulai dan dilakukan
oleh pasangan itu, baik induk jantan ataupun induk betina. Induk betina akan
lebih sering melakukan kegiatan mengerami telur, sedangkan untuk induk jantan
biasanya akan menggantikan peran induk betina untuk mengerami telur dalam waktu
yang singkat yaitu dari pagi sampai siang. Telur merpati yang akan menetas pertama
kali biasanya terjadi dalam 17-18 hari yang nantinya akan diikuti oleh telur
yang kedua dalam 48 jam selanjutnya.
BAB III
PENUTUP
Tingkah laku
reproduksi dari ternak unggas keseluruhan hampir sama. Ternak unggas jantan
lebih menampakan kelebihan seperti kegagahanya, suaranya, bulunya dan
lain-lain. Ternak betina cenderung menerima ataupun menolak. Ternak betina yang
menerima akan diam dan memposisikan diri seperti rebah, menempelkan dada,
perut, paruh dan ekor ke tanah, apabila menolak maka akan lari.
Ada beberapa
perbedaan dari tingkah laku reproduksi ternak unggas yang membuat ciri khas
ternak tertentu. Ayam jantan memiliki ciri khas lebih agresif dan mengejar
betina, serta betina yang mula-mula lebih suka menghindar atau lari. Ternak
kalkun jantan yang memulai dengan menegakkan bulunya, lalu melakukan tarian dan
berputar-putar. Merpatipun memiliki ciri khas seperti berciuman dan
membersihkan bulunya setelah perkawinan, serta ternak yang paling setia
terhadap pasangannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Candi-kalkun.blogspot.com/. Diakses
pada 18 mei 2015 pukul 16.30 wib.
Curtis, S.E. 1983. Environmental
management in Animal Agriculture. The Iowa State University Press. Iowa.
http://maulidayanti1.blogspot.com/2013/07/tingkah-laku-ayam.html.
Diakses pada 16 mei 2015 pukul 19.30 wib.
Lorenz, K. 1951. Comparative Studies
on the Beheviour of Anatinae. Agricultural Magazine 57:PP.157-182.
http://biologidanpengetahuan.blogspot.com/2011/12/praktikum-fotoperiode-pada-
puyuh-jantan.html. Diakses pada 16 mei 2015 pukul 19.45 wib.
http://novalinahasugian.blogspot.com/2009/05/tingkah-laku-ternak.html.
Diakses pada 18 mei 2015 pukul 17.00 wib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar