Sabtu, 23 Mei 2015

Makalah Perilaku Ternak



BAB I
PENDAHULUAN
Reproduksi adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya. Reproduksi seksual membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda. Reproduksi ternak normal adalah contoh umum reproduksi seksual.
Hampir semua tingkah laku adalah adaptif. Timngkah laku memungkinkan hewan untuk memenuhi tuntutan tingkat tingkat organisasi biologis di bawah organisme tersebut (system organ, organ-organ, jaringan dan sel) dan untuk menyesuaikan tingkat tingkat biologis di atas organism tersebut ( kelompo social, spesies, komunitas, dan ekosistem), dan juga menyesuaikan pada lingkungan ambiennya (suhu, kelembaban, pengaturan ruang, pakan, air dan lainnya).
Hewan bertingkah laku dalam usahanya untuk beradaptasi dengan lingkungan, di mana faktor genetik dan lingkungan terlibat di dalamnya. Lingkungan sekitar mendorong hewan bertingkah laku untuk menyesuaikan diri dan bahkan terjadi pula penyesuaian hereditas. Implikasinya, jenis atau spesies hewan mempengaruhi reaksi dalam beradaptasi dengan lingkungannya (Curtis, 1983).
Secara alami seekor ayam betina akan mengalami masa bertelur ketika sudah memasuki masa matangnya organ reproduksi ayam, walaupun tanpa membutuhkan seekor pejantan. Hanya saja telur yang dihasilkan tidak akan dapat ditetaskan karena tidak adanya pembuahan sel telur oleh sperma di dalam organ reproduksi ayam betina, telur tanpa pembuahan tersebut dinamakan infertile. Agar menghasilkan sebutir telur yang dapat ditetaskan, tentu diperlukan sebuah perkawinan oleh seekor ayam jantan sebagai penghasil sperma, yang selanjutnya sperma tersebut akan dibuahi oleh indukan betina untuk menghasilkan telur. Kemudian telur tersebut dierami sampai menetas selama 21 hari untuk memperoleh DOC.















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tingkah Laku Reproduksi Ayam
    Tingkah laku seksual termasuk tingkah laku sosial, sebab: Menyangkut lebih dari satu ekor. Ayam adalah hewan poligami sehingga denagn satu pejantan dapat mengawini 6-10 ayam betina. Tingkah laku reproduksi pada ayam sangat di pengaruhi cara perkawinan berikut ini akan dibahas cara mengawinkan ayam antara lain:
1.      Kawin Alami
Perkawinan secara alami adalah perkawinan ayam pejantan dengan induk betina dimana keduanya telah matang organ reproduksinya. Perkawinan dilakukan dengan cara ayam akan menaiki tubuh induk betina dan memasukkan spermanya ke dalam vagina induk betina. Perkawinan ini dilakukan tanpa ada campur tangan manusia, karena biasanya saat induk betina sudah mulai siap kawin akan menunjukkan tingkah laku yang dapat mengundang ayam jantan untuk segera mengawininya.
2.      Kawin Semi
Alami Kawin semi alami atau kawin dodok (diambil dari istilah duduk), yaitu perkawinan ayam yang dilakukan sama seperti cara konvensional, tetapi dibantu tangan manusia. Caranya dengan memegangi induk betina yang siap kawin dengan posisi didudukkan ke lantai agar tidak meronta-ronta, sehingga ayam pejantan dapat mengawininya secara alami. perkawinan ini hanya dapat dilakukan pada ayam yang sudah jinak dan terbiasa.
3.      Kawin suntik
Kawin suntik atau kawin IB yaitu perkawinan denagn penganbilan semen dan di suntikan ke beberapa betina. Untuk memperoleh DOC yang berkualitas dalam jumlah banyak, seragam dan dalam waktu yang singkat. Keberhasilan cara ini juga menjadi trobosan baru, namun kurang efisien sehingga sering di lakukan pada ternak hobi.
Ternak ayam secara alami pada saat perkawinan melakukan tingkah laku yang unik, berikut tingkah laku dan gerakan ternak ayam jantan dan betina saat libido dan birahi (melakukan tingkah laku reproduksi):
1. Jantan
a. Tarian WALTZ
Pejantan akan melakukan tarian seperti: merendahkan sayap, mendekati betina dan melangkah ke samping betina hingga dekat sekali. Ada 3 macam tarian WALTZ diperlihatkan kepada betina yaitu sebagai pinangan, yang sudah siap kawin dan setelah selesai kawin.
b. Aktivitas pengganti
Mengalihkan dorongan seksual. Dilakukan bila pinangan tidak ada tanggapan, jantan mematuk-matuk batu/mengais-ais sambil memanggil betina. Jika tetap tidak ada tanggapan, betina akan dikejar.
c. Penegakkan bulu Leher
Pejantan meninggikan bulu, bulu ditegakkan, bulu seluruh badan bergetar dilakukan sebelum & sesudah kawin.
d. Gerakan Ekor
Ekor si jantan digerakkan dengan cepat dalam arah horizontal.
e. Gerakan Kepala
Kepala dimiringkan, kemudian digerakkan membuat satu lingkaran.
f. Penyisiran Bulu
    Menggosok-gosokkan kepala pada sayapnya.
g. Hentakan Kaki
Jantan berlari dengan kaki dibengkokkan, sayapnya direndahkan, sehingga menyentuh tanah, leher dipendekkan, biasanya dilakukan sebelum jantan mengejar betina.
h.  Gerakan Abnormal
Pejantan mengitari betina sambil mengawasinya dengan seksama lalu pejantan mendekati betina dari belakang lalu mematuk kepala/leher betina sambil mengepakkan sayapnya dengan cepat.
         2. Betina
a.         Menolak dikawini
Betina yang menolak dikawini akan cenderung menghindar dan lari.
b.        Menerima dikawini
Ayam betina akan merapatkan dada dan ekor ke tanah, sayap dikem- bangkan untuk menjaga keseimbangan.
c.         Bersarang
Ketika akan bertelur ayam merasa gelisah, proses bertelur mempengaruhi jiwa ayam, cenderung tenang bila ada sarang yang ada telurnya.
d.        Mengeram
Perilaku mengeram merupakan perilaku alami ayam betina untuk menetaskan telurnya, namun perilaku ini dapat dihilangkan melalui seleksi. Untuk mencegah ayam betina mengeram dapat dilakukan: kandang jangan terlalu gelap, suhu jangan terlalu tinggi, litter jangan terlalu tebal dan dikeluarkan dari kelompok. Selanjutnya menghentikan ayam betina mengeram dengan cara: dilepas, dibiarkan jalan-jalan, kandang harus sejuk dan dimandikan (suhu tubuhnya diturunkan).
e.         Mengasuh Anak
Induk ayam memiliki mathering ability yang besar umumnya akan lebih agresif. Induk akan merawat dan melindungi anaknya. Penyapihan terjadi pada umur anak 12 – 16 minggu, induk berahi lagi
f.         Komunikasi
Penglihatan untuk pengenalan dan ingatan seperti: bentuk dan warna kepala (jengger dan pial) dan warna bulu sayap/tubuh.
g.        Pendengaran Suara (kokok)
sebagai alat komunikasi antara induk dengan anak, atau betina memberi tanda pejantan.
B. Tingkah Laku Reproduksi Itik
Perilaku kawin alam pada ternak itik dan entog pada kondisi liar, ternak itik atau entog biasanya kawin di atas air (sambil berenang), yaitu di sungai atau danau. Namun pada kondisi pemeliharaan intensif ternak itik atau entog dapat kawin dengan hasil fertilitas yang baik walaupun tanpa ada fasilitas kolam. Pada dasarnya ada lima tahapan tingkah laku sewaktu kawin yaitu tahap perayuan, tahap naik ke atas punggung, perangsangan betina, ereksi dan ejakulasi. Tahapan-tahapan tersebut banyak diuraikan oleh Lorenz (1951),sebagai berikut:
1.      Tahap perayuan
Tahap ini ditandai dengan pejantan yang menaik turunkan kepala sambil bersuara yang khas dan mematuk matuk betina. Betina yang sedang birahi maka akan diam dan mau di dekati pejantan. Kadang juga betina masih menolak dan lari.
2.      Tahap naik ke atas punggung betina.
Pejantan akan segera apabila itik betina mau dinaiki dan itik betina akan merapatkan dada dan ekor ke tanah, sayap dikem-bangkan untuk menjaga keseimbangan.
3.      Tahap perangsangan Tahap perangsangan yaitu dengan memijit-mijitkan/menekan kakinya pada punggung betina sambil mengigit kepala dan menggerak-gerakan ekornya secara berirama untuk mengarahkan kloakanya pada kloaka betina. Betina akan menaikan ekornya agar tidak menutupi kloaka pejantan.
4.      Tahap ereksi Tahap ini ditandai dengan menonjolnya kloaka pejantan (tonjolan berwarna merah).
5.      Tahap ejakulasi Tahap ini merupakan tahap pengeluaran sperma pejantan.
C.     Tingkah Laku Reproduksi Burung  Puyuh
Puyuh merupakan jenis aves yang tidak dapat terbang,ukuran tubuhnya relative kecil, berkaki pendek dan tersebar diseluruh dunia, sedangkan cara hidup yang liar menimbulkan kesan bahwa puyuh sulit dipelihara. Puyuh di Indonesia baru mulai dikenal dan dipelihara pada akhir tahun 1979. Masyarakat yang menghendaki produksi telur lebih banyak memilih puyuh jepang untuk dipelihara dan diambil telurnya.
Puyuh merupakan salah satu spesies unggas yang sangat responsive dalam menerima energi cahaya. Tingkah laku, masak kelamin, dan bioritme burung puyuh dapat dimanipulasi dengan pemberian warna cahaya yang spesifik terutama untuk panjang gelombang cahaya merah, jingga, kuning, hijau dan biru. Pemberian cahaya selama 14-16 jam setiap hari pada burung puyuh sangat dibutuhkan untuk memelihara fertilitas dan produksi telur, sedangkan untuk produksi daging diperlukan pencahayaan selama 8 jam setiap hari.
Tingkah laku seksual merupakan tingkah laku interaksi antara jantan dengan betina yang sedang estrus. Tingkah laku ini ditunjukkan saat seekor jantan dewasa kelamin siap melakukan kopulasi ke dalam alat kelamin betina dan betina yang sudah dewasa kelamin serta sedang mengalami estrus akan tetap diam jika sedang terjadi proses kopulasi (standing heat). Apabila ternak betina tidak estrus, maka ketika jantan akan melakukan proses kopulasi, secara otomatis betina akan lari menghindar. Tingkah laku seksual ini sangat penting untuk memelihara kelangsungan kelompok. Prilaku seksual merupakan salah satu prilaku belajar (Septiana, 1996).
Tingkah laku reproduksi pada puyuh hampir sama dengan unggas- unggas yang lain. Berikut uraian tingkah laku tersebut:

1.        Tingkah laku reproduksi puyuh jantan
 Puyuh jantan akan memperlihatkan penampilan yang menarik kepada betina sebagai pinangan. Jika puyuh betina menerima pejantan tersebut maka pejantan akan menaiki betina terjadi proses perkawinan. Apabila puyuh betina menolak maka akan lari dan pejantan akan mengejar.
2.        Tingkah laku reproduksi puyuh betina Betina yang menerima pejantan maka tidak lari dan merebahkan dada, perut, paruh dan ekornya untuk dinaiki pejantan, kemudian terjadi proses perkawinan. Apabila menolak betina akan menghindar dan lari.
D.    Tingkah Laku Reproduksi Kalkun
Kalkun berasal dari Amerika Utara dan sekarang sudah menyebar ke berbagai belahan dunia, salah satunya adalah Indonesia. Di Amerika, kalkun biasa dikonsumsi pada saat hari thanks giving setiap tanggal 23 november dan perayaan natal. Kalkun merupakan salah satu unggas berukuran besar mencapai 12 kg per ekor. Kalkun diketahui mempunyai kemampuan unik dalam melakukan reproduksi aseksual. Walaupun tidak ada kalkun pejantan, kalkun betina bisa menghasilkan telur yang fertil. Anak kalkun yang dihasilkan sering sakit-sakitan dan hampir selalu jantan. Perilaku ini bisa mengganggu proses inkubasi telur di peternakan kalkun. Keunikan lainnya, jantan akan mengembangkan sayap dan ekornya untuk menarik perhatian betina dan selalu menyerang orang yang memakai baju 'ngejreng". Kalkun biasa menyerang tukang pos dengan tajinya di amerika, hal tersebut terkait dengan musim kawin kalkun
Kalkun mempunyai ciri-ciri khusus saat akan kawin hampir sama dengan ayam antara lain :
1. Tingkah laku reproduksi kalkun jantan
a.             Kalkun Jantan Melakukan Tarian
Kalkun jantan merendahkan sayapnya sambil mendekati betina,melangkah kesamping sampai mencapai jarak 1 langakah. Tarian dperlihatkan ke betina dengan maksud sebagai pinangan dan yang sudah siap (membungkuk).
b.             Aktivits pengganti
Bila jantan telah melakukan pinangan, tapi betina menolak (tidak membungkuk) si jantan akan mematuk batu/apa saja serta mengais-ais sambil memanggil betina.
c.             Kepakan sayap Mengepakan sayap dan sambil berkokok untuk menunjukan kejantanan jika betina tidak membungkuk.
d.            Penegakan bulu
e.             Gerakan ekor dengan cara menggerakan dengan cepat dalam arah horizontal
f.              Gerakan kepala dilakukan dengan memiringkan kemudian digerakkan membentuk 1 lingkaran.
g.             Hentakan kaki
h.             Penyisiran bulu
i.               Gerakan abnormal pada jantan
1.             Gerakan atau tingkah laku pejantan kladang juga tidak wajar sepaerti pejantan mengitari betina sambil mengawasi dengan seksama dan mendekari betina dari belakang kemudian mematuk kepala sambil mengepakan sayap nya dengan cepat.
2. Tingkah laku reproduksi kalkun betina
     a. Reaksi negatif terhadap pinangan jantan :
-Menghindar dari jantan
-Melarikan diri
     b. Menerima pinangan
Kalkun betina akan membungkukan badan, dada dan ekor nya merapat ketanah, sayap dikembangkan meninggi untuk menjaga kseimbangan bila jantan menaiki nya bila menolak pinangan dari pejantan.
E.     Tingkah Laku Reproduksi Merpati
      Perkawinan merpati sudah bisa berlangsung sejak merpati sudah menginjak usia 5 sampai 8 bulan. Sedangkan masa puncak dari produksi telur terjadi pada usia 12 hingga 18 bulan. Hal tersebut terus berlangsung hingga merpati menginjak usia 2-3 tahun. Usia merpati yang optimal dalam memproduksi telur adalah pada usia 5 hingga 6 tahun.
Tingkah laku burung merpati yang sedang dalam masa perkawinan berbeda dengan jenis burung yang lainnya dimana memiliki semangat kawin yang sangat tinggi dan sang induk jantan juga ikut berperan dalam membuat sarang, mengerami telurnya serta membesarkan anak-anaknya yang baru saja menetas. Merpati merupakan hewan yang setia dan sepanjang hidupnya berpasangan secara tetap, namun jika ada salah satu yang mati atau dipisahkan maka akan dicarilah pasangan lain dalam beberapa hari. Namun jika pasangan yang sudah dipisahkan tersebut dikembalikan, maka pasangan lama akan terwujud kembali. Berikut tingkah laku reproduksi merpati:
1.      Tingkah laku reproduksi merpati jantan
Untuk pejantan memulai dengan suatu kegiatan persiapan untuk kawin yaitu dengan cara menggembungkan temboloknya, setelah itu bulu-bulunya dimekarkan, sayap direbahkan lalu pejantan memperlihatkan penampilan yang tenang. Merpati jantan akan mendekat. Jika merpati betina menerima pejantan tersebut maka kedua akan menyatukan paruhnya seperti berciuman. Merpati tersebut mulai bersatu untuk meneruskannya. Kemudian terjadi proses perkawinan yang hanya berlangsung beberapa detik saja, setelah selesai kawin masing-masing burung merpati itu seperti membersihkan dirinya dengan cara mengigit-gigit badannya seperti mencari kutu. Segera setelah kawin, merpati jantan akan mencari bahan-bahan untuk membuat sarang di dalam petak kandangnya.
2.      Tingkah laku reproduksi merpati betina
Betina yang menerima pejantan maka tidak lari dan menyatukan paruhnya seperti berciuman, kemudian terjadi proses perkawinan yang hanya berlangsung beberapa detik saja. Apabila ovum dibuahi maka betina dan pejantan akan membuat sarang. Setelah sarangnya mendekati akhir penyelesaian atau sudah selesai maka induk betina akan mengeluarkan telurnya yang pertama. Dalam 24 jam berikutnya biasanya telur yang kedua akan dikeluarkan. Tiap kali masa bertelur, biasanya induk betina bisa menghasilkan 2 butir telur. Pengeraman akan segera dimulai dan dilakukan oleh pasangan itu, baik induk jantan ataupun induk betina. Induk betina akan lebih sering melakukan kegiatan mengerami telur, sedangkan untuk induk jantan biasanya akan menggantikan peran induk betina untuk mengerami telur dalam waktu yang singkat yaitu dari pagi sampai siang. Telur merpati yang akan menetas pertama kali biasanya terjadi dalam 17-18 hari yang nantinya akan diikuti oleh telur yang kedua dalam 48 jam selanjutnya.

BAB III
PENUTUP

Tingkah laku reproduksi dari ternak unggas keseluruhan hampir sama. Ternak unggas jantan lebih menampakan kelebihan seperti kegagahanya, suaranya, bulunya dan lain-lain. Ternak betina cenderung menerima ataupun menolak. Ternak betina yang menerima akan diam dan memposisikan diri seperti rebah, menempelkan dada, perut, paruh dan ekor ke tanah, apabila menolak maka akan lari.
Ada beberapa perbedaan dari tingkah laku reproduksi ternak unggas yang membuat ciri khas ternak tertentu. Ayam jantan memiliki ciri khas lebih agresif dan mengejar betina, serta betina yang mula-mula lebih suka menghindar atau lari. Ternak kalkun jantan yang memulai dengan menegakkan bulunya, lalu melakukan tarian dan berputar-putar. Merpatipun memiliki ciri khas seperti berciuman dan membersihkan bulunya setelah perkawinan, serta ternak yang paling setia terhadap pasangannya.







DAFTAR PUSTAKA
Candi-kalkun.blogspot.com/. Diakses pada 18 mei 2015 pukul 16.30 wib.
Curtis, S.E. 1983. Environmental management in Animal Agriculture. The Iowa State University Press. Iowa.
http://maulidayanti1.blogspot.com/2013/07/tingkah-laku-ayam.html. Diakses pada 16 mei 2015 pukul 19.30 wib.
Lorenz, K. 1951. Comparative Studies on the Beheviour of Anatinae. Agricultural Magazine 57:PP.157-182.
http://biologidanpengetahuan.blogspot.com/2011/12/praktikum-fotoperiode-pada- puyuh-jantan.html. Diakses pada 16 mei 2015 pukul 19.45 wib.
 http://novalinahasugian.blogspot.com/2009/05/tingkah-laku-ternak.html. Diakses pada 18 mei 2015 pukul 17.00 wib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar